Disini, Saat Ini (Advanced Version)

Ya Rabbi, yang Terkasih,…
Disini, saat ini, sebagai Diri Sejati, kasih dan kerinduan kami, seutuhnya untuk-Mu…

Ya Rabbi, yang Terkasih,…
Disini, saat ini, sebagai Diri Sejati, kasih dan kerinduan kami, seutuhnya untuk-Mu…

Ya Rabbi, yang Terkasih,…
Disini, saat ini, sebagai Diri Sejati, kasih dan kerinduan kami, seutuhnya untuk-Mu…

Biarlah kami dapat memberikan kasih kami kepada-Mu, seutuhnya, selamanya, sebagai Diri Sejati, tanpa batasan…

Diri Sejati = ruh

~ oleh 1heart4love di/pada Februari 19, 2008.

13 Tanggapan to “Disini, Saat Ini (Advanced Version)”

  1. jangan lupa hati berbeda dengan heart (jantung). hati senang membolak-balik. salam kenal :mrgreen:

  2. Salam kenal juga :)

    Hati, yang tertulis dalam blog ini, adalah Heart dalam makna non fisik ataupun Qalb juga dalam makna non fisik. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Qalb yang non fisik tersebut, bertempat didalam Shudur (dada), yang juga non fisik.

    Mudahnya, Hati yang dimaksud dalam blog ini, adalah apabila anda rileks, santai, senyum, dan merasakan kebahagiaan, maka akan ada sesuatu yang ringan, mengembang, dan indah. Itulah hati :D

  3. falsafahnya beda lho antara hati dan jantung. kalbu buat orang Jawa adalah hati (berada dalam dimensi jiwa), sedangkan jantung… beda lagi :mrgreen:

  4. advanced version? kekekeke aya2 wae si mas

  5. hmmhmmmhmmm… :-?
    Mungkin mas sitijenang perlu menjabarkan secara lebih detail, saya agak-agak nggak nangkep maksudnya ini. Btw, hati yang saya maksud memang non fisik, bagian dari jiwa (atau nafs dalam terminologi Islam). Jantung, dalam pengertian saya adalah fisik, yang berfungsi mensirkulasikan darah (betulkah sha? yang jago biologi :D ), tentu beda dengan hati yang non fisik.

    #shashakoe
    Advanced version ini nggak mengada-ngada :) , kalau sha menggunakan hati, rasanya akan lain. Yang advanced version lebih dalam, karena (mencoba untuk) memuat kesadaran Diri Sejati (ruh). Rasanya lebih dalam, lebih indah, dan memuat lebih banyak kerinduan. Agak susah diungkapkan, lebih baik dirasakan sendiri saja (ingat, jangan pakai otak tapi hati :) ). Bahkan, nanti akan ada versi yang lebih pasrah lagi, maybe :D

  6. yup… :)
    serangkaian “menu” masakan sudah banyak tersaji dimana2. dari versi e-book sampe jilidan tebal di rak toko buku. btw, pernahkah kita mencoba merasakan “masakan” itu?

  7. kenapa pakai “ya” bro, untuk memanggilNya? adakah Dia terlalu jauh? :)

  8. #iftahlana
    Nah itu, yang biasa dilakukan kebanyakan kita adalah tidak mencicipinya, namun hanya “merekonstruksi” kenikmatan masakan menggunakan akal, padahal kenikmatan tersebut hatilah yang mampu menginderanya.

    #tapak-merah
    Sama sekali tidak :) . Ini kebiasaan saya sedari kecil, berdoa kepada-Nya menggunakan “ya”. Rasanya lebih “mesra” justru. Namun, terima kasih saya untuk anda, karena mengingatkan saya bahwa mengasihi-Nya tidak boleh dibatasi oleh “kebiasaan” :D

  9. Wadouuuww…sampek siulang-ulang 3 kali rek, ben mantep yah…
    Apa yah mas wujud KASIH yg bisa kita ( DIRI SEJATI ) berikan kepada Tuhan..??

    Nggelesod…menunggu Kaweruh baru…

  10. #Santri Gundhul
    Diulang dua kali mas, dan memang “kedalamannya” berbeda :)

    Pelaku spiritual yang “egois”, memberikan kasih kepada-Nya hanyalah betul-betul memberikan kasih kepada-Nya saja. Yang agak berkurang “egois”nya, memberikan kasih kepada-Nya dengan membagikan kasih-Nya kepada semua makhluk diseluruh keberadaan. Sekali lagi mas, ini “sikap batin”. Wujud wadagnya bisa berupa nge-blog :D

  11. Heks…heks…pinter tenan sampeyan Mas.
    Biar nge BLOG kan pake Duit juga yah…yah…
    selain energi, waktu, Ilmu, Pikiran
    Halah..halah…bisa berbagi dalam banyak hal baik Materiil maupun Moril.

    Yupz….ngrogoh dompet…mbalyu neng Warnet…
    Nge Blog ah…

  12. saya “kesasar” kesini, tp alhamdulillah lha koq malah seneng. seandainya setiap kesasar bisa seneng kayak gini enak juga ya………

  13. koq bisa kesasar mas? :D
    semoga bisa mendapat banyak manfaat ketika mampir disini :)

Tinggalkan Balasan